Mengenal Pluralisme Disintegratif Menuju Pluralisme Integratif Masyarakat Beda Agama di Kelurahan Karang, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri

  • Ahmad Sakirin IAIN Ponorogo
Keywords: Pluralisme, symbol, Disintegrative / Integrative, Harmonious, Diversity, Education

Abstract

Bangsa Indonesia adalah bangas yang plural. Hal ini ditunjukkan dari berbagai macam suku, agama etnis serta beragam budaya yang menjadi simbol ciri khas bangsa kita. Kepluralan ini hendaknya mampu kita sikapi dan eksplor menjadi sebuh komoditi kekayaan, dimana secara subtantif keberadaannya ini bisa menjadikan nilai-nilai investasi yang patut diperhitungkan sebagai asset non fisik untuk bisa dilestaraikan sehingga menjadi modal devisa pariwisata yang luar biasa. Salah satu alasan yang mendasar adalah terbinanya kelestaraian berbagai macam budaya atau simbol-simbol budaya tetap lestari hingga sekarang, tanpa adanya konflik yang berkepanjangan yang kerap kali menjadi penyebab persoalan hancurnya (disintegratif) suatu peradaban.

Model-model pluralitas yang kerap kali menjadi momok hancur/lunturnya bahkan hilangnya suatu peradaban menjadi biang keladi sebagai tuduhan klasik penyebab disintegratif sering kali di patahkan dan tidak bisa dibuktikan dimasyarakat kita, terutama masyarakat Karang, Slogohimo, Wonogiri. Peran serta warga serta para tokoh masyarakat menjadi kunci bagaiman terbina ukhuwah dalam kehidupan keberagaman agama, budaya, serta sikap teleransi tinggi yang lebih mengedepankan keharmonisan hidup. Sikap atau nilai-nilai ini terlebur dalam kebiasaan sehari-hari masyarakat dengan terus menjalin rasa tali silaturrahmi demi menjaga setiap perbedaan yang komplek, baik perbedaan agama, budaya, sikap, doktrin-doktrin agama (aliran konsep doktrin NU dan Muhammadiyah atau doktrin/ajaran Protestan dan Katolik) serta ajaran lain yang masih hidup dalam masyarakat disana.

Corak dan model kehidupan yang penuh kebhinekaan ini yang tetap menjaga nilai-nilai luhur ini sangat jarang kita temui dalam suatu sistem masyarakat lain disuatu bangsa. Hal ini tentu pantas mendapatkan nilai apresiasi yang tinggi, karena tidak semudah itu melihat kenyataan suatu masyarakat yang multi kultur tanpa di temui adanya percikan atau gesekan berarti. Sepintas mata memandang, masyarakat Karang tak jauh beda dengan masyarakat lainnya yang ada di sekitarnya. Dari segi kehidupan, mata pencaharian, ekonomi, potensi-potensi lain nampak tak berarti bahkan tak layak mempunyai nilai lebih, karna itulah, dengan penulisan ini akan memberikan perspektik informasi lain yang nantinya bisa menjadi rujukan (metode) membangun suatu masyarakat sipil bangsa ini yang penuh kepluraris dengan tetap mengedepankan sikap keharmonis yang lentur.

Konsep edukasi seperti diatas tentu akan menjadi ikon dalam mengedepankan upaya penyelesain konflik/isu yang berkepanjangan. Isu-isu publik yang sering kali menawarkan perpecahan bukan hal yang selama ini tidak dapat diselesaikan dengan jalan damai. Akan tetapi, kita sepakat sebut bahwa ajaran atau konsep diatas yang lebih menekankan sikap pluralisme disintegratif (perpecahan) bisa membuahkan hasil dalam wacana sikap plurarisme integratif yaitu penyatuan dan keutuhan kehidupan sosial dengan tetap mengedepan sikap toleransi kemajemukan.

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biography

Ahmad Sakirin, IAIN Ponorogo

Dosen IAIN Ponorogo

References

Ahmad, Haidlor Ali. “Kerjasama Antar Umat Beragama dalam Wujud Kearifan Lokal di Kabupaten Poso.” Jurnal Multikultural & Multireligius VIII (2009).
Analisis Interaksionisme Simbolik Masyarakat Beda Agama Kelurahan, Karang, Slogohimo, Wonogiri. Ponorogo: IAIN Ponorogo, 2017.
Azhari, Muntaha, dan Abdul Mun’im Saleh. Islam Indonesia menatap masa depan. Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, 1989.
Coward, Harold. Pluralisme dan Tantangan Agama-Agama. Yogyakarta: Kanisius, 1989.
Desa, Balai Pemberdayaan Masyarakat. “Daftar Isian Potensi Desa dan Kelurahan, lampiran II Permendagri No. 12 2007 Pedoman Penyusunan dan Pendayagunaan Data Profil Desa dan Kelurahan,” 2012.
Hidayat, Komaruddin, dan Ahmad Gaus Af. Passing Over: Melintasi Batas Agama. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998.
Itmam, M. Shohibul. “Analisis Interaksionisme Simbolik Masyarakat Beda Agama Di Kelurahan Karang, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri.” Dalam Penelitian Unggulan Bidang Humaniora/Sosiokultural. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), 2017.
Kusumastuti, Erwin. “Strategi dan Praktik Kerukunan Beragama dalam Perspektif Pendidikan Multikultural.” UIN Sunan Kalijaga, 2016.
Nisvilyah, Lely. “Toleransi Antarumat Beragama Dalam Memperkokoh Persatuan Dan Kesatuan Bangsa (Studi Kasus Umat Islam Dan Kristen Dusun Segaran Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto).” Kajian Moral dan Kewarganegaraan 2, no. 1 (2013).
Priyono, Priyono. “Pluralisme Agama dan Konflik.” Analisa Journal of Social Science and Religion 15, no. 02 (2008): 137–161.
Ritzer, George. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Diterjemahkan Oleh Alimandan. Jakarta: CV Rajawali, 1985.
Shihab, Alwi. Islam inklusif: Menuju sikap terbuka dalam beragama. Bandung: Diterbitkan Atas Kerja Sama an Teve Dan Penerbit Mizan, 1997.
Published
2018-12-28
How to Cite
Sakirin, A. (2018). Mengenal Pluralisme Disintegratif Menuju Pluralisme Integratif Masyarakat Beda Agama di Kelurahan Karang, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri. Ibriez : Jurnal Kependidikan Dasar Islam Berbasis Sains, 3(2), 179-198. https://doi.org/10.21154/ibriez.v3i2.56